Tak Terima Suara Tadarus, WNA Perancis Ngamuk di Gili Trawangan: Cabut Mic hingga Ancam Warga Pakai Parang!

Avatar pantasadmin

Tak Terima Suara Tadarus, WNA Perancis Ngamuk di Gili Trawangan: Cabut Mic hingga Ancam Warga Pakai Parang!
Posted on :

Suasana tenang tadarus Ramadan di sebuah mushala di kawasan wisata Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, mendadak berubah tegang pada Kamis malam (19/2/2026). Seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Perancis, Miranda Lee, dilaporkan mengamuk karena merasa terganggu dengan suara bacaan Al-Qur’an dari pengeras suara (toa).

Insiden yang terjadi sekitar pukul 23.30 WITA itu langsung menyedot perhatian publik setelah videonya beredar luas di media sosial. Dalam rekaman yang viral, terlihat seorang perempuan berambut pirang mengenakan pakaian hitam tiba-tiba masuk ke dalam mushala saat warga tengah khusyuk membaca Al-Qur’an. Tanpa banyak bicara, ia langsung mencabut kabel Mickrofon dan merusaknya.

Aksi spontan tersebut memicu emosi warga. Namun, sejumlah saksi menyebutkan masyarakat setempat masih berusaha menahan diri dan menghindari kontak fisik. Warga mencoba memberikan penjelasan bahwa kegiatan tadarus tersebut masih sesuai aturan yang berlaku selama Ramadan di Gili Trawangan.

Kronologi Kejadian di Tengah Malam

Kepala Dusun Gili Trawangan, Muhammad Husni, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, saat warga tengah melaksanakan tadarus, pelaku tiba-tiba datang dan marah-marah tanpa menghiraukan penjelasan yang diberikan.

“Warga sedang tadarus di dalam mushala, tiba-tiba WNA ini masuk dan langsung mencabut kabel mikrofon. Tindakannya membuat warga spontan emosi,” ujarnya.

Husni menegaskan bahwa di wilayah Gili Trawangan terdapat kesepakatan bersama terkait penggunaan pengeras suara selama Ramadan. Speaker luar masih diperbolehkan digunakan hingga pukul 24.00 WITA. Setelah itu, warga wajib menggunakan speaker dalam agar suara tidak terlalu keras keluar area.

Namun, penjelasan tersebut tidak diterima pelaku. Situasi semakin memanas ketika perempuan tersebut dilaporkan mencakar salah satu warga hingga mengalami luka. Dalam video yang beredar, terdengar teriakan dan makian yang dilontarkan pelaku di tengah kerumunan warga yang mencoba menenangkannya.

Rebut Ponsel dan Ancam dengan Parang

Ketegangan belum berhenti di situ. Husni menyebut pelaku sempat merebut handphone milik warga yang merekam kejadian tersebut, lalu masuk ke dalam villanya yang berada tak jauh dari lokasi mushala. Ketika warga mencoba mengambil kembali ponsel tersebut, pelaku justru diduga mengancam menggunakan parang.

“Warga berusaha melerai dan mengambil handphone-nya, tetapi yang bersangkutan melawan bahkan membawa parang,” jelas Husni.

Tak hanya warga, aparat kepolisian yang datang ke lokasi pun disebut sempat dikejar oleh pelaku dalam kondisi emosi. Meski demikian, aparat berupaya menangani situasi dengan pendekatan persuasif untuk mencegah bentrokan lebih jauh.

Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta, saat dikonfirmasi membenarkan adanya insiden tersebut. Ia mengatakan pihak kepolisian masih melakukan pemantauan terhadap yang bersangkutan guna menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tetap kondusif.

“Masih kita monitor dan kita pantau yang bersangkutan,” ujarnya singkat.

Sudah Lama Tinggal di Gili Trawangan

Informasi dari aparat dusun menyebutkan, WNA tersebut sudah lama menetap di Gili Trawangan bersama orang tuanya dan memiliki villa di kawasan wisata itu. Namun, belakangan orang tuanya tidak lagi tinggal di sana.

Warga setempat mengaku terkejut dengan tindakan tersebut. Mereka menilai sebagai penduduk lama, pelaku seharusnya sudah memahami aturan serta kebiasaan masyarakat setempat, terutama saat bulan Ramadan.

“Dia sudah lama di sini, mestinya tahu aturan dan kebiasaan di Trawangan,” ujar Husni.

Selama ini, Gili Trawangan dikenal sebagai destinasi wisata internasional yang mempertemukan wisatawan mancanegara dengan masyarakat lokal dalam harmoni. Aktivitas pariwisata berjalan berdampingan dengan kehidupan sosial dan keagamaan warga.

Perdebatan soal Toa dan Toleransi

Peristiwa ini pun memicu diskusi luas di media sosial. Sebagian warganet menyoroti pentingnya toleransi terhadap aktivitas keagamaan masyarakat lokal. Di sisi lain, ada pula yang menyinggung soal penggunaan pengeras suara pada malam hari.

Namun, pihak dusun menegaskan bahwa penggunaan speaker pada malam kejadian masih dalam batas waktu yang diperbolehkan sesuai kesepakatan bersama masyarakat dan pelaku usaha setempat, termasuk kafe yang juga diatur jam operasional suaranya selama Ramadan.

Warga bersyukur insiden tersebut tidak berujung pada aksi balas dendam atau kekerasan massal. Meski sempat terjadi ketegangan, masyarakat memilih menahan diri dan menyerahkan penanganan kepada aparat.

 Insiden ini menjadi pengingat bahwa hidup berdampingan di kawasan multikultural membutuhkan sikap saling menghormati. Di daerah wisata seperti

Gil Ttrawangan, interaksi lintas budaya memang menjadi keseharian. Namun, memahami norma, adat, dan aturan lokal tetap menjadi kunci utama menjaga harmoni.

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan pemantauan dan pendalaman terkait insiden tersebut. Situasi di Gili Trawangan dilaporkan kembali kondusif, sementara aktivitas masyarakat dan wisatawan berjalan seperti biasa.

Kasus ini menegaskan pentingnya komunikasi, toleransi, serta kepatuhan terhadap aturan lokal terutama di tengah suasana Ramadan yang seharusnya diwarnai ketenangan dan kebersamaan.***(Alx)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *