Tradisi yang kerap muncul saat Ramadan berubah menjadi tragedi berdarah. Seorang remaja berinisial ZMR (16) meninggal dunia usai terlibat duel perang sarung di lapangan sepak bola Dusun Mrayun, Desa Termas, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Rabu (25/2) malam.
Kasus ini kini dalam penyelidikan intensif aparat dari Polres Grobogan setelah terungkap adanya dugaan rekayasa cerita untuk menutupi insiden tersebut.
Berawal dari Ajakan WhatsApp
Peristiwa maut itu diduga bermula dari pesan WhatsApp yang dikirim korban kepada temannya untuk mengajak duel dengan kelompok lain yang masih satu dusun.
Ajakan itu diterima. Korban kemudian menjemput beberapa rekannya sebelum mendatangi kelompok lawan. Kedua kubu sepakat bertemu di lapangan sepak bola desa untuk melakukan perang sarung.
Duel Berujung Pingsan dan Meninggal
Di lokasi, kedua kelompok terlibat saling pukul menggunakan sarung yang ujungnya diikat. Dari duel tersebut, korban mendadak lemas dan mengalami kesulitan bernapas sebelum akhirnya tersungkur ke tanah.
Korban sempat dibawa pulang dan dilarikan ke Puskesmas Karangrayung I. Namun nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia oleh tenaga medis.
Kakek korban mengungkap, terdapat luka memar di bagian tengkuk dan punggung belakang tubuh cucunya.
Sempat Direkayasa Jadi Kecelakaan Tunggal
Fakta mengejutkan terungkap. Pihak keluarga sempat mendapat informasi bahwa korban mengalami kecelakaan tunggal. Bahkan disebutkan motor sengaja dinyalakan untuk menguatkan skenario tersebut.
Namun setelah penyelidikan, polisi memastikan tidak ada kecelakaan.
“Bukan kecelakaan, melainkan penganiayaan,” tegas petugas.
Tujuh Sarung Diamankan, Enam Saksi Diperiksa
Polisi mengamankan tujuh sarung berbagai warna dan merek sebagai barang bukti. Seluruh remaja yang terlibat telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Sebanyak enam saksi sudah diperiksa. Polisi juga memastikan tidak ditemukan batu atau benda keras di dalam sarung.
Hingga kini, aparat masih menunggu hasil laboratorium forensik untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.
Keluarga Ingin Damai
Meski kasus ini menyita perhatian, pihak keluarga korban menyatakan keinginan untuk menyelesaikan persoalan secara damai. Namun proses hukum tetap berjalan sesuai prosedur yang berlaku.
Ramadan Kembali Ternoda
Perang sarung yang semestinya dianggap permainan tradisional justru kembali memakan korban jiwa. Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi orang tua dan masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas remaja di malam hari.
Kasus ini pun menjadi sorotan publik dan menambah daftar panjang tragedi perang sarung yang berujung maut di berbagai daerah.

Tinggalkan Balasan