Rumah Lama Tak Dihuni Penuh Dengan Misteri

Avatar pantasadmin

Rumah Lama Tak Dihuni Penuh Dengan Misteri

Jeritan Ranto membangunkan seluruh kampung.

Polisi datang. Semua mengira Widodo frustasi. Di saku celananya ditemukan catatan kecil bertuliskan: “Maaf, aku gagal. Mereka hanya bisa janji.” Tak ada yang tahu apa benar itu surat terakhirnya atau… hanya pengalihan dari sesuatu yang lebih gelap.

Beberapa warga bilang malam itu mereka mendengar suara orang mengigau dari rumah kosong. Ada juga yang mengaku melihat sosok bayangan tinggi berdiri di pojok rumah setelah Widodo masuk.

Apakah benar Widodo bunuh diri karena tekanan hidup?
Ataukah ada “bisikan” dari penghuni lama rumah kosong itu yang membuatnya menyerah?

Jejak di Dinding Tua

Tiga hari setelah kematian Widodo, rumah kosong itu dipasangi garis polisi. Tapi tak banyak yang benar-benar peduli—beberapa warga malah bersyukur akhirnya rumah itu “diperhatikan”. Tapi tidak dengan Ranto. Ia masih dihantui rasa bersalah.

Sejak malam Widodo ditemukan tergantung, Ranto tak bisa tidur nyenyak. Setiap malam ia merasa ada yang berdiri di depan pintu kamarnya. Istrinya, Wati, bilang ia sering mengigau menyebut-nyebut nama Widodo sambil menangis.

Di malam keempat, Ranto memberanikan diri kembali ke rumah kosong itu. Ia membawa senter dan beberapa kemenyan. Ia ingin menenangkan hatinya sendiri.

Pintu rumah itu masih setengah terbuka, persis seperti pagi saat ia menemukan Widodo tergantung. Aroma lembab dan kayu lapuk menyambutnya, disertai hawa dingin yang tidak biasa. Ia menyusuri ruang tengah. Bekas tali nilon masih menggantung.

Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuatnya merinding. Di salah satu dinding, ada coretan samar seperti bekas jari-jari yang menulis dalam debu:

“Aku tidak sendiri waktu itu.”

Ranto mundur perlahan, tapi saat ia hendak keluar, pintu tertutup sendiri dengan keras.

Suara dari Loteng

Panikan, Ranto mencoba membuka pintu, tapi seperti terkunci dari luar. Lalu dari arah atas, ia mendengar suara gemeretak—seperti ada yang berjalan pelan di loteng.

“Widodo…?” suara itu pelan, parau, seperti ditarik dari dunia lain.

Ranto menggigil. Ia mundur ke belakang, menabrak kursi rotan tua yang langsung roboh. Senter yang ia pegang mulai berkedip-kedip. Dalam remang-remang, ia melihat bayangan seseorang duduk membelakanginya, tepat di tempat Widodo ditemukan tergantung.

Bayangan itu perlahan menoleh. Tapi sebelum wajahnya terlihat jelas, senter Ranto padam.

Gelap total.

Ranto hanya bisa mendengar napas berat… dan suara tawa kecil—tawa yang aneh, bercampur tangis.

Bisikan yang Membekas

Ranto pingsan.

Ia ditemukan oleh Wati dan warga pagi harinya, tergeletak di lantai rumah kosong dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. Saat siuman, Ranto tak banyak bicara. Tapi dari sorot matanya, jelas ada sesuatu yang mengganggu jiwanya.

“Aku… dengar suara, Wat. Suara Widodo. Tapi bukan dia… itu seperti dia, tapi bukan dia.”

Wati menangis mendengar suaminya bicara setengah linglung. Ia meminta bantuan Pak Lurah dan seorang kiai kampung, Kyai Munir, untuk mengobati Ranto secara batiniah. Ranto dibacakan doa-doa, dan tubuhnya berkeringat dingin, menggigil seperti orang demam berat.

Setelah sesi rukyah singkat itu, Kyai Munir duduk termenung. Ia mengusap janggut putihnya, lalu berkata, “Rumah kosong itu tidak benar-benar kosong. Ada jejak dari dulu… yang tak pernah diusik.”

Semua orang terdiam. Bahkan burung di luar jendela seperti berhenti berkicau.

Rahasia Lama

Keesokan harinya, Kyai Munir ditemani Pak Lurah dan dua warga lain mendatangi rumah kosong itu. Mereka menyusuri bagian belakang yang selama ini jarang dibuka. Di sana, mereka menemukan sebuah ruang kecil seperti gudang tertutup triplek.

Begitu dibuka, aroma busuk menyeruak. Dan di dalam ruangan itu—terdapat satu peti kayu tua dan tumpukan kain kafan yang sudah menghitam.

Kyai Munir membaca doa perlahan.

“Dulu, pernah ada yang mati bunuh diri juga di rumah ini. Lelaki muda, belum menikah. Katanya karena dipermalukan dan ditinggal kekasihnya. Tapi kabarnya… dia belajar ilmu-ilmu aneh sebelum mati.”

Pak Lurah mengangguk. “Itu kejadiannya sebelum rumah ini diwariskan ke keluarga Pak De-nya Ranto. Tapi tak pernah ada yang berani tinggal di sini lebih dari seminggu.”

“Arwah yang menggantung itu belum pergi… dan mungkin, kemarin dia merasa Widodo adalah dirinya yang baru.”

Malam Terakhir dan Kebenaran yang Terungkap

Minggu berganti. Ranto mulai sembuh secara fisik, tapi pikirannya masih dihantui. Ia tak lagi berani melintasi rumah kosong itu. Tapi suatu malam, seseorang datang dari luar desa. Lelaki tua berpakaian rapi, membawa sebuah tas kulit tua. Namanya Pak Karman. Ia memperkenalkan diri sebagai adik tiri dari almarhum pemilik lama rumah kosong itu.

“Saya dengar ada yang meninggal gantung diri di rumah itu lagi,” kata Pak Karman dengan nada berat.

Ranto, Pak Lurah, dan Kyai Munir duduk bersamanya. Dan malam itu, semua cerita lama dibuka.

“Dulu, kakak tiri saya, Marto, tinggal di rumah itu. Ia belajar semacam ilmu pemikat dan pengasihan. Tapi saat cintanya ditolak oleh perempuan yang dia incar, ia bunuh diri. Tapi sebelum itu, dia sempat bersumpah di depan cermin tua dalam rumah itu, katanya: ‘Kalau aku mati, biar siapa pun yang masuk dengan beban cinta atau dendam, akan menggantikan aku.’”

Ranto menggigil.

“Saya kira cuma sumpah orang putus cinta. Tapi ternyata, arwahnya masih menetap,” lanjut Pak Karman. “Dan sayangnya, Widodo masuk rumah itu di waktu yang salah—dengan beban hidup yang berat dan hati yang sudah hancur.”

Kyai Munir hanya mengangguk. Ia sudah menduganya. Widodo bukan hanya mati karena frustasi… tapi karena ia dipilih oleh sesuatu di dalam rumah itu.

Malam itu juga, mereka bertiga masuk ke rumah kosong, membawa Al-Qur’an, air doa, dan segenggam tanah dari makam Widodo. Di ruang tengah, mereka membaca surat Yasin hingga menjelang subuh.

Saat doa terakhir dibacakan, terdengar suara seperti rintihan panjang dari dinding-dinding rumah. Lalu sunyi.

Pagi itu, tali nilon yang masih tergantung tiba-tiba terurai sendiri, jatuh ke lantai dan membusuk dalam hitungan menit. Di dinding, tulisan samar “Aku tidak sendiri waktu itu” hilang perlahan seperti dilap oleh udara.

Epilognya

Rumah kosong itu akhirnya dibongkar dan dijadikan mushola kecil oleh warga. Setiap malam Jumat, warga mengadakan tahlil bersama. Tak ada lagi cerita penampakan atau bisikan aneh.

Widodo dimakamkan dengan layak, dan istrinya menerima bantuan dari warga setelah kisahnya terbongkar. Ranto pun kembali tenang, tapi ia tak pernah lupa… bahwa kadang, beban hidup yang berat bisa membuat kita jadi sasaran sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kegagalan.***

TAMAT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *