Pertandingan sengit antara Persijap Jepara melawan Persis Solo di Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) Jepara pada Kamis malam (5/3/2026) berakhir imbang tanpa gol. Namun laga yang seharusnya menjadi ajang sportivitas itu justru diwarnai kericuhan antar suporter yang memanaskan suasana stadion.
Sejak awal pertandingan, tensi pertandingan sudah terasa tinggi, baik di dalam lapangan maupun di tribun penonton. Kedua tim tampil agresif dan saling menekan demi meraih kemenangan. Persijap yang bermain di hadapan ribuan pendukungnya mencoba tampil dominan, sementara Persis Solo datang dengan semangat mencuri poin dari kandang lawan.
Atmosfer pertandingan semakin panas ketika diketahui ratusan suporter Persis Solo turut hadir langsung di stadion. Kehadiran mereka sempat mengejutkan sebagian pendukung tuan rumah. Para suporter tim tamu ditempatkan di sisi sayap tribun VIP yang jaraknya cukup dekat dengan tribun selatan yang dipadati oleh suporter Persijap.
Kondisi tersebut membuat potensi gesekan cukup tinggi. Sejak babak pertama dimulai, kedua kelompok suporter terlihat saling melontarkan ejekan dan chant yang memancing emosi. Meski begitu, situasi sempat dapat dikendalikan oleh petugas keamanan yang berjaga di sekitar tribun.
Namun ketegangan tidak sepenuhnya mereda. Di beberapa titik tribun, sempat terjadi adu mulut antara suporter Persis Solo dan suporter Persijap yang berada di area VIP. Situasi tersebut membuat sebagian penonton memilih berpindah tempat demi menghindari potensi keributan.
Memasuki babak kedua, intensitas pertandingan di lapangan semakin meningkat. Kedua tim sama-sama berupaya mencetak gol pembuka. Beberapa peluang tercipta, namun belum mampu mengubah papan skor.
Di sisi lain, tensi di tribun penonton juga ikut meningkat. Suasana yang sebelumnya hanya berupa ejekan mulai berubah menjadi aksi provokasi yang memicu emosi kedua kubu.
Kericuhan akhirnya pecah ketika terjadi aksi saling lempar antar suporter. Awalnya, benda yang dilempar hanya berupa botol plastik yang berasal dari area tribun. Namun situasi semakin tidak terkendali ketika beberapa suporter mulai melempar batu dan pecahan bata ke arah tribun lawan.
Aksi tersebut membuat suasana stadion berubah tegang. Sejumlah penonton yang berada di sekitar lokasi kericuhan terlihat panik dan berusaha menjauh dari area tersebut untuk menghindari terkena lemparan.
Puncak kericuhan terjadi sekitar menit ke-80 pertandingan. Saat itu tiba-tiba muncul lemparan petasan dan kembang api dari arah tribun. Ledakan kecil yang terjadi sempat membuat situasi semakin kacau dan memicu kepanikan di antara penonton.
Belum dapat dipastikan siapa yang pertama kali melemparkan petasan tersebut. Namun aksi itu membuat kondisi stadion semakin memanas. Suporter dari kedua kubu terus saling melempar berbagai benda ke arah tribun lawan.
Kericuhan berlangsung cukup lama bahkan hingga masa tambahan waktu babak kedua. Alih-alih mereda, ketegangan justru semakin meningkat menjelang akhir pertandingan.
Setelah peluit panjang dibunyikan oleh wasit yang menandai berakhirnya pertandingan dengan skor 0-0, situasi di tribun masih belum sepenuhnya kondusif. Beberapa kelompok suporter masih terlihat terlibat saling lempar dan adu teriak.
Melihat situasi yang semakin memanas, aparat kepolisian yang bertugas melakukan pengamanan akhirnya turun langsung ke lapangan. Sejumlah personel berseragam bergerak menuju tribun untuk mengendalikan situasi dan memisahkan kedua kelompok suporter.
Petugas keamanan berupaya meredam kericuhan dan menenangkan para penonton agar tidak terjadi bentrokan yang lebih besar. Polisi juga mengawal proses keluarnya suporter dari stadion guna mencegah terjadinya konflik lanjutan di luar area stadion.
Hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban akibat insiden tersebut. Namun aparat keamanan terus melakukan pemantauan di sekitar stadion untuk memastikan situasi kembali kondusif.
Sementara itu, hasil imbang tanpa gol membuat kedua tim harus puas berbagi satu poin dalam pertandingan tersebut. Persijap Jepara gagal memanfaatkan status sebagai tuan rumah untuk meraih kemenangan, sementara Persis Solo juga tidak mampu mencuri tiga poin dari laga tandang mereka.
Pertandingan ini menjadi pengingat bahwa rivalitas dalam sepak bola seharusnya tetap dijaga dalam batas sportivitas. Dukungan suporter yang fanatik diharapkan tetap mengedepankan keamanan dan ketertiban agar sepak bola dapat dinikmati sebagai hiburan yang menyatukan, bukan justru memicu konflik.***(Alx)

Tinggalkan Balasan