Curah hujan dengan ekstensitas yang cukup ekstrim khususnya di Kabupaten Jepara membuat jembatan penghubung Desa Ngetuk dan Karangnongko, Kecamatan Nalumsari, ambruk dan terseret arus sungai. Peristiwa ini terekam kamera warga dan viral di media sosial karena terjadi secara tiba-tiba.
Dari video yang beredar tersebut terlihat jelas retakan pada lantai jembatan sebelum akhirnya bagian utama terlepas dan hanyut mengikuti aliran sungai. Warga yang berada di sekitar lokasi segera menjauh demi keselamatan, mengantisipasi runtuhan susulan dan serpihan material yang terbawa arus.
Dari video terlihat, jembatan yang hanyut disaksikan langsung warga sekitar dan terdengar teriakan panik saat struktur jembatan mulai retak, melengkung, lalu ambruk. Arus sungai yang meningkat akibat hujan deras beberapa hari terakhir menggerus fondasi, membuat penyangga tak lagi mampu menahan beban air.
Menurut keterangan warga setempat, musibah ini diawali tumbangnya batang pohon randu yang tersangkut di tiang penyangga. Batang pohon tersebut terus diterjang arus deras, menambah beban pada struktur jembatan. Dalam waktu singkat, fondasi tergerus dan jembatan pun tak mampu bertahan.
Jembatan gantung ini bukan sekadar penghubung dua desa. Sejak dibangun secara swadaya pada 1997, jembatan menjadi jalur alternatif utama warga, terutama anak-anak sekolah dasar. Tanpa jembatan, warga kini harus memutar sejauh ±2,5 kilometer melalui jalan desa untuk menuju sekolah, tempat ibadah, pasar, dan pusat aktivitas lainnya.

Kondisi ini dinilai memberatkan, khususnya bagi pelajar dan lansia. Sejumlah orang tua mengaku khawatir dengan keselamatan anak-anak yang kini harus menempuh jarak lebih jauh setiap hari.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo langsung meninjau lokasi setelah video tersebut viral di medsos. Ia memastikan Pemerintah Daerah segera mengambil langkah untuk membangun kembali jembatan karena urgensinya bagi masyarakat.
“Karena ini sangat urgent, kita akan pikirkan. Mudah-mudahan bisa kita bangun kembali, insya Allah setelah Lebaran,” sebut Witiarso Utomo pada Selasa (13/1/2026) siang.
Ia menargetkan pembangunan jembatan pengganti rampung sekitar Maret 2026, sehingga akses warga bisa segera pulih. Pemerintah Daerah juga akan mengevaluasi desain dan konstruksi agar lebih tahan terhadap banjir dan material hanyutan di masa mendatang.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana di wilayah yang dilintasi sungai. Warga berharap pembangunan jembatan baru disertai penguatan fondasi, sistem pengaman dari hanyutan batang kayu, serta perawatan rutin terutama saat musim hujan.
Sementara itu, warga setempat berharap adanya jalur darurat sementara atau solusi alternatif agar aktivitas harian khususnya pendidikan tidak terganggu terlalu lama.
Masyarakat Desa Ngetuk dan Karangnongko berharap prosesnya cepat, transparan, dan aman, agar jembatan penghubung yang telah menjadi urat nadi kehidupan desa selama puluhan tahun itu dapat kembali berfungsi.
Peristiwa jembatan hanyut di Jepara ini menjadi sorotan luas dan menambah daftar kejadian infrastruktur terdampak cuaca ekstrem di awal 2026. Warga berharap, dengan langkah cepat Pemerintah Daerah sehingga aktivitas masyarakat segera kembali normal dan kejadian serupa tak terulang.***(Alx)


Tinggalkan Balasan